|
kukangkangi kata-kata kutiduri setiap abjad kubuahi setiap malam dengan nafsu memaki mencerca.. menohok melontarkan serapah tumpah ruah akulah penyair mengukir setiap peristiwa menjadi rintik hujan yang kadang membadai kadang liris kadang menusuk mematikan akulah penyair menggelandangi malam menyusuri siang dengan gelisah dengan amarah tak boleh nyaman tak boleh aman tak boleh selalu siaga selalu terjaga meski lapar meski terkapar akulah penyair.. ya.. penyair maka ibu mengusirku bapak menghardikku calon mertuwa menendangku pacar meludahiku teman-teman mengasihaniku sambil nyinyir lalu kucari lonte kusetubuhi dengan sisa honor kemarin dari koran daerah yang jelas murah juga dari hasil ngamen di acara LSM yang hanya ngasih ongkos transport tapi aku biasa jalan kaki jadi uang itu bisa kupakai beli wisky palsu, juga perempuan di pinggir jalan akulah penyair menyisakan hari diwarnet murahan memajang kata yang sekarang ini sedang anda baca (catatan untuk seorang kawan) |
| Leave a Comment: |