Sunday, September 06, 2009
H1
tak terbayangkan
kepala batu itu melemah
mengibakan bendera tanda menyerah
H2
irisan-irisan luka
tanpa darah, sepertinya
tanpa amarah, harusnya
tanpa caci maki, layaknya
tapi tetap perih
juga membekapkan sepi
tak terperi
H3
pasangkan saja di pelaminanmu
serangkai senda gurau kita
juga, mimpi ajaib dan tangis
yang sering tiba-tiba
Saturday, July 11, 2009
aku seperti menyusuri
jalan sama yang pernah terlewati
lengang.. sunyi... senyap
meski purnama bulat
meski lalulintas padat
sepertinya harus menepi
mengistirahatkan ingin
merebahkan niat
mendengkurkan tekat
atau harus ada jawab
yang tak pernah
menjadi janji
menjadi harap
yang kita sepakat
tak laju langkah kita
berkelindan pada ragu
yang itu milikmu
Posted at 11.7.09 by
rahman seblat
Permalink
Saturday, July 04, 2009

ke 1
aku terus menggali
menggerus tanah dan padas
untuk kemudian memakamkan
rasa yg secuil ini
yang ternyata
telah mati
ke 2
ceruk itu
menjadi tempat
paling nyaman
untuk meringkuk
menunggu ajal
ke 3
tak perlu garam
atau keringat asin
juga nanah
atau darah
untuk membuat
waktu ini
tak jadi hambar
dan mematikan
ke 4
gelap pun
tak cukup
menelan serapah
pun liang yang tergali
menghujam dalam nyeri
tak cukup
tak kan cukup
ke 5
di sebuah ujung
pada ruang pasi
pada liang sepi
kuhirup angin mati
yang kau hidangkan
sejak pertama
kita bersapaan
Thursday, May 07, 2009
1
deret ketiga
lalu kiri
langkah ini piuh
pada tanah kecoklatan
dan sepi
yang mendaraskan doa
2
15 menit sudah
saatnya beranjak
meninggalkan pusara
menjumput wajahmu
di ujung sana
3
pastikan saja
kamu masih tegak
meski tak harus
sekuat karang
cukup sebaris senyum
dan keberanian
menghadapi kesendirian
yang sering menyergap
tiba-tiba
rawamangun, 7 mei 09
Tuesday, April 21, 2009
ke 1
gontai di jalan ini
tak juga menikung
tak juga laras
titik merah samar
akankan makin samar?
ke 2
nafas yg satu-satu
dengus yang bau
nadir yang pandir
jejak yg tergelincir
karena aku batu
dan kamu ragu-ragu
ke 3
menakar lagi
hujan yang bias
tekat yg pias
lekatkan saja rindumu
pada para-para
pada jeda-jeda
pada sakit yg tiba-tiba
ke 4
kubiarkan takut ini
mengelanyuti hati
menegangi urat nadi
agar aku dapat memaknai
arti menjadi laki-laki
pancoran mas dini hari
Posted at 21.4.09 by
rahman seblat
Permalink