Image Hosted by ImageShack.us


2011-03-02
mengeja duka

pada waktu yang lesat
pada tatap yang terkejap

ku eja duka yang tiba-tiba
yang melipir pandir
ditengah waktu liat
cekat-cekat

disaat hantaman palu
berdesing dikepala batu

sejenak kepala tunduk
lupakan reriuhan
dunia yang tak jeda

berdesing di pusaran
berdetak di tikungan

Posted at 2.3.11 by rahman seblat
Make a comment  




2011-01-06
se-norak2nya


kepada cinta yang sedang kusemai
tak ada doa berkepanjangan
hanya rindu yg terpanah
juga laku yang tak beku
dan darah deras terpompa penuh gairah
menggerakkan langkahku merengkuhmu
sampai penghabisan hari
selewat malam bertemu pagi

Posted at 6.1.11 by rahman seblat
Make a comment  




2010-11-13
akulah penyair

kukangkangi kata-kata
kutiduri setiap abjad
kubuahi setiap malam
dengan nafsu memaki
mencerca.. menohok
melontarkan serapah
tumpah ruah

akulah penyair
mengukir setiap peristiwa
menjadi rintik hujan
yang kadang membadai
kadang liris
kadang menusuk
mematikan

akulah penyair
menggelandangi malam
menyusuri siang
dengan gelisah
dengan amarah

tak boleh nyaman
tak boleh aman

tak boleh

selalu siaga
selalu terjaga
meski lapar
meski terkapar

akulah penyair..
ya.. penyair

maka ibu mengusirku
bapak menghardikku
calon mertuwa menendangku
pacar meludahiku
teman-teman mengasihaniku
sambil nyinyir

lalu kucari lonte
kusetubuhi
dengan sisa honor kemarin
dari koran daerah
yang jelas murah
juga dari hasil ngamen
di acara LSM
yang hanya ngasih ongkos transport

tapi aku biasa jalan kaki
jadi uang itu bisa kupakai
beli wisky palsu,
juga perempuan
di pinggir jalan

akulah penyair
menyisakan hari
diwarnet murahan

memajang kata
yang sekarang ini
sedang anda baca


#posting ulang

Posted at 13.11.10 by rahman seblat
Make a comment  




2010-10-28
melihat fotomu

itu adalah penghianatan
pada perasaan paling dalam
pada nurani paling hakiki
meski semua adalah pilihan


Posted at 28.10.10 by rahman seblat
Comment (1)  




2010-10-18
lagu pecundang

peras saja hati ini. sampai darah terakhir luruh di ujung jari
lalu sebarkan remahnya. di ilalang belakang, atau di teras depan rumah.
yang temboknya kugambar dengan darah
dari luka-luka kemarin.dari setiap rindu yang tak juga membatu.

reff
lalu pergi saja.. jangan menatap lama-lama.
pergi.. pergii saja.. jangan tunggu lama
2X

karena matamu pisau. senyummu peluru.
meski desingnya tak juga membunuh rasaku.
hanya menyipratkan perih. menyayatkan sedih.
menggurat pedih..

Posted at 18.10.10 by rahman seblat
Make a comment  




Next Page
 



rahman seblat
October 24th
Male
jakarta


   





 
<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Solidaritas Korban Lumpur Lapindo






rumah mayanya
rahman













Rahman Seblat's Facebook profile





 
Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed